HOME | DD
Published: 2008-01-28 10:48:08 +0000 UTC; Views: 1691; Favourites: 3; Downloads: 23
Redirect to original
Description
AzaleaOleh Mutia Muis
Kulihat cowok itu mendongak, menatap papan nama toko bungaku. Toko bunga milik Papa. Toko yang diberi nama sesuai namaku, Freesia. Bahasa bunganya jangan ditanya, malu-maluin! Toko ini letaknya di samping rumahku.
Kelihatannya, baru pertama kali datang ke toko bunga ini. Dia berseragam SMA, bertubuh tinggi, poin plus-nya, dia keren banget!
Yang aku sayangkan cuma satu. Aku nggak bisa baca nama pengenalnya yang ketutupan noda hitam. Tinta mungkin.
“Hei!” dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.
Aku terkesiap.
“Kalau ngelamun, gimana bisa melayani pembeli?” ujarnya setengah mengejek.
“Maaf.”
Omonganku nggak digubris. Dia malah melenggang masuk ke dalam tokoku. Salahku juga sih! Kuputuskan untuk mengikutinya.
“Itu bunga Lili?” si keren itu menunjuk sekeranjang bunga Lili kuning di sudut toko.
“Iya.”
“Ada Lili yang lain?”
Aku menggeleng. “Cuma itu.”
Untuk kesekian kalinya, dia nggak menyahut, dan mendatangi sudut toko. Sesuai yang kukira, dia mengambil kelima Lili yang tersisa. Tapi kejadian yang selanjutnya di luar perkiraanku.
“Jadi dibuat buket? Orang yang kamu sayangi pasti senang menerimanya,” ujarku waktu dia berdiri di hadapanku, membawa Lili kuning beserta keranjangnya.
Cowok itu menatapku sinis. Apa aku salah ngomong? Dan…
Krek!
Dia mematahkan sebatang demi batang, kelima Lili itu.
“Lili, tuh nggak pantas ada di toko ini! Ngerti?! Parasnya cantik, dalamnya nggak!” dijatuhkannya keranjang Lili kosong, dibuangnya patahan-patahan bunga Lili di hadapanku.
“Maksudnya apa?!”
“Kamu nggak bakal ngerti,” dia tersenyum kecut, lalu pergi meninggalkanku.
Darahku udah naik ke ubun-ubun. Aku bergegas menyusulnya. Kulihat kiri-kanan jalan. Cowok itu nggak ada. Kenapa larinya cepat banget?!
Udah kelewat emosi. Aku hempaskan dengan keras keranjang kosong tadi. Nyebelin!!! Aku nggak perduli dia mau marah kayak tadi! Tapi, apa dia nggak tahu, lima batang Lili tadi harganya dua ratus lima puluh ribu!
* * *
“Tuh cowok nyebelin!” ujarku berapi-api. Kuceritakan kejadian kemarin. All about, si keren yang ngeselin itu sama Rika, sobatku. Saat ini pulang sekolah. Rumahku dan rumah Rika sekompleks, jadi selalu pulang bareng.
“Freesia, sayang,” Rika menepuk-nepuk bahuku. “Kamu udah gede kan? Udah SMA. Masak anak kecil gitu, kamu ambil ati?”
Aku memelototinya. “Kamu nggak dengar?! Dia udah gede! Udah SMA kayak kita! Kelakuannya tuh, yang nggak dewasa!”
“SMA?!”
“Iya, SMA! Nggak dewasa, kalau ngerusak dagangan orang tanpa bayar!”
“Keren nggak?”
“
“Yah, siapa tahu dari situ, tumbuh benih-benih cinta antara kau dan dirinya,” Rika sok puitis.
Kutohok pelan bahunya, dia terkekeh. Nggak kerasa, kita sampai di depan toko bungaku. Dan nggak nyangka juga, cowok keren bin aneh kemarin berdiri di situ. Mau apa lagi dia?!
Rika sempat-sempatnya terpana, sebelum ngelanjutin perjalanan pulang ke rumahnya yang sempat tertunda.
Kulihat cowok itu pakai seragam yang kemarin. Aku ingat betul nama pengenalnya yang terkena tinta. Masak nggak ganti baju?
Dia tersenyum memandangku.
“Kenapa lihat orang kayak gitu?”
“Habis aku nggak ngira kamu udah SMA kayak aku. Bukannya masih bocah?” dia cekikikan.
Nggak sopan!
“Nama toko ini kayak namamu, ya?” dia melirik nama pengenal di seragamku, sambil menunjuk papan nama toko. “Freesia, kan nama bunga. Artinya kekanak-kanakan, sama aja kalau dibilang bocah. Ya nggak?”
Aku manyun. Tuh, arti namaku malu-maluin kan? Tapi kenapa dia bisa tahu? “Ada yang mau kamu cari?”
Dia menggaruk-garuk kepalanya. “Cuma…”
“…?!”
“Mau minta maaf soal kemarin. Aku tahu, harga bunga Lili mahal,” dia menyerahkan enam lembar seratus ribuan padaku. “Ini ganti bunga kemarin.”
“Tapi kebanyakan.”
“Sisanya buat permohonan, biar toko kamu nggak ngejual bunga Lili lagi. Bisa nggak?”
Hah?!
* * *
“Baru pulang, Sia?” cowok keren itu menegurku duluan, kayak biasa, dia masih pakai seragam SMA yang nama pengenalnya terkena tinta. Jangan-jangan bajunya cuma itu. Masak nggak bisa beli? Tapi kemarin, dia bisa bayar uang bunga Lili yang dia rusak.
“Mau beli bunga?”
“Nggak. Mau ketemu kamu aja.”
Aku memelototinya.
“Bohong kok! Aku mau lihat toko bungamu. Aku penasaran, apa kamu udah membuang bunga-bunga Lili yang kamu jual. Ternyata belum.”
“Untuk apa aku buang barang daganganku?”
“Yah, kalau kamu mau. Aku nggak maksa. Toh, toko bunga punyamu juga.”
“Kamu nggak suka Lili?”
“Bisa dibilang gitu. Ada yang salah?”
“Aneh aja. Kamu nggak suka bunga secantik itu,” ujarku seraya memasuki toko.
Cowok itu hening.
“Hei! Ada yang mau kamu lihat? Masuk aja!”
“Ng… Iya,” dia ikut memasuki toko.
* * *
Udah kuduga. Cowok itu ada lagi di depan tokoku, pakai seragam itu juga.
“Jangan bilang kalau kamu minta aku ngerusakin bunga-bunga Lili-ku!”
Dia nyengir.
“Tujuanmu nggak jelas. Untuk apa sih ngerusakin bunga Lili?”
“Kalau aku siapin uang satu miliar biar kamu nggak jualan Lili, bisa nggak?”
“Nggak!” ujarku tegas.
“Emangnya ada masalah, sampai kamu segitu bencinya sama bunga itu?”
“Ada.”
“Bisa kamu ceritain?” selidikku.
Dia menatapku tajam. “Sori, nggak bisa.”
* * *
Kenapa aku terus keingatan sama dia? Aku nggak tahu namanya pula! Kenapa aku nggak tanya, dia kan sering datang ke toko bungaku!
Aku bengong menatap pintu toko. Hari ini dia nggak datang. Rasanya sepi.
“Kangen sama dia?”
“Awww!” aku menggores jari telunjukku dengan pisau. “Kamu bilang apa, Ka?”
Rika melepas pisau dari genggamanku. “Yang dipotong tangkai bunganya, bukan jarimu yang kamu gores. Obati lukamu dulu!”
Aku beranjak dari tempatku, sesaat Rika memanggilku.
“Sia, kenapa perasaanku kenal banget sama cowok itu ya?”
* * *
Aku melamun di depan toko. Hampir tiga hari, cowok itu nggak datang lagi ke toko ini. Udara malam yang dingin, aku acuhkan.
“Sudah malam, Sia,” papa menepuk bahuku lembut. “Toko harus ditutup.”
“Sebentar lagi, Pa. Sia yang nutup toko.”
Papa tersenyum, meninggalkanku sendirian.
“Selamat malam.”
Suara itu membuatku terkesiap. Si cowok aneh, dia berdiri di hadapanku. Apa dia nggak tahu aku kangen sama dia?! Dia nggak berubah. Seragam terkena tintanya masih dipakai juga.
“Kenapa kamu suka ngelamun sih? Ngelamunin aku?”
Aku tertawa. “Ngaco! Kenapa datang malam-malam? Mau beli bunga?”
“Mau ketemu kamu,” dengan santai dia memasuki toko. “Bunga itu kok masih ada di sini sih?” ditunjuknya sudut toko, tempat bunga Lili berada.
“Masih ngotot nyuruh aku buang bunga itu?”
Dia malah tersenyum. “Yah, kalau kamu tetap menjual bunga itu aku nggak bisa ngelarang.”
“Kenapa kamu nggak suka Lili?”
“Kamu tahu arti Lili kuning yang aku rusak itu? Artinya, kebencian.”
Dia menatapku sendu.
“Cewek itu namanya Lilia, aku sayang banget sama dia.”
Aku kalah satu langkah, ternyata dia udah punya cewek.
“Bunga kesukaan dia Lili. Kupikir, cewek itu memang ditakdirin untukku. Ternyata dia bohong!” sorot mata cowok itu menjadi dingin. “Sore itu, dia bilang udah pulang duluan. Padahal dia janji mau pulang bareng. Waktu aku selidiki di kelasnya, ternyata dia ada. Kamu tahu apa yang terjadi?”
Aku menggeleng.
“Lili yang cantik itu! Dia menautkan bibirnya ke sobatku! Pacar dan sobatku, keduanya bermain api di belakangku. Menusukku dari belakang! Sejak kejadian itu, aku jadi frustasi dan benci yang namanya Lili!”
Tatapannya melunak.
“Makanya, waktu hari itu aku datang ke tokomu, membuatmu marah, dan ngerusakin bunga Lilimu. Aku emosi waktu itu. Sori…”
“Udah aku maafin.”
“Ayahmu nggak marah sama aku?”
“Enggak.”
Kulihat dia sumringah, lalu menjabat kedua tanganku. Tangannya terasa dingin.
“Makasih! Kalau aja waktu itu yang kutemui kamu, bukannya Lilia. Aku nggak mungkin kayak ini. Aku pengen ngasih kamu berbuket-buket bunga Freesia, tapi bunga itu pasti nggak dijual di sini.”
Aku terdiam.
“Kamu nggak pengen tahu namaku, Sia? Aku Azalea.”
“Kayak nama bunga.”
“Memang,” Azalea terkekeh. “Bahasa bunganya, jagalah dirimu untukku.”
“Artinya aneh, kayak yang punya nama.”
Dia terkekeh lagi. “Kamu bercanda?”
* * *
Aku ngelamunin Azalea lagi. Cowok aneh itu! Cara bicaranya juga aneh. Tapi kenapa, aku terus berdebar-debar memikirin dia?
Kulihat seorang wanita cantik memakai kemeja putih, dilapisi blazer hitam, dan rok hitam setumit, turun dari sebuah sedan silver. Mendatangi toko bungaku. Lebih tepatnya mendatangiku.
Dia tersenyum. “
“
“Biar saya tunggu di sini. Boleh?”
Aku mengangguk.
Kulihat Rika menghampiriku sambil ngos-ngosan. Dia menyerahkan koran yang dibawanya padaku.
“Ada apa?”
Buru-buru Rika menunjuk sebuah artikel di halaman koran itu. “
Aku nggak begitu ngerti omongan Rika. Kubaca artikel yang dia tunjuk. Koran terbitan tahun 2000? “Azalea Pratama? Nama cowok itu…” aku menoleh heran pada Rika.
“Lanjut...”
Rupanya, wanita tadi tertarik dan ikut membaca koran yang kupegang.
Sepenggal kalimat tertulis…
14 Februari 2000,
Seorang pelajar SMA tewas karena tabrak lari di depan sebuah toko bunga Jalan xxx. Sehari sebelumnya, pemuda tanggung itu terlihat sedang mengobrak-abrik dagangan toko bunga tersebut…
“Ngerasa aneh nggak? Kejadiannya mirip waktu kamu ketemu cowok itu, kan?” Rika menatapku.
“Maksudnya, Azalea? Aku juga heran, kenapa nama cowok di koran ini bisa sama kayak dia.”
Wanita tadi terkejut, refleks mencengkram kedua pundakku. “Azalea?! Kamu bertemu dia?”
Aku mengangguk.
“Dia nggak mengganggumu? Kalau iya, maafkan dia. Kelihatannya dia mau meminta maaf sama kamu dan Papamu, soal kejadian merusak bunga itu. Sayangnya nggak sempat. Jadi…”
“Nggak, Bu. Dia malah baik banget. Dia pernah datang, membayar ganti rugi bunga yang dia rusak,” aku menuju meja kasir, dan kembali membawa uang enam ratus ribu itu. Apa yang kulihat! Uang itu berlumuran darah!
Wajah Rika dan wanita itu berubah pucat.
Aku terduduk lemas di atas tanah. Kurasakan, wanita itu menggenggam kedua tanganku.
“Kayaknya kalian belum mengerti juga. Saya ibunya Azalea. Koran itu benar, semua yang pernah kalian alami juga benar. Waktu koran itu terbit, Azalea memang masih SMA seperti kalian dan berita di koran itu semuanya tentang Azalea. Tepat hari ini, tujuh tahun kematian Azalea. Makanya, saya ingin bertemu Papamu. Setiap tanggal dan bulan ini perasaan bersalah saya selalu muncul karena ulah Azalea waktu itu.”
Seketika wajahku bersimbah airmata. Dada ini rasanya sesak! Azalea, kenapa kamu pergi secepat itu?!
* * *
Related content
Comments: 1
Azure09 [2011-08-03 15:37:40 +0000 UTC]
0woo...ceritanya bagus! Khas novel remaja Indo XD
Dan, kebetulan bgt bisa nemu yg kaya bginian :3
Terus, pas bca nama Muttia n Azalea, ntah knapa ngerasa familiar. Kmu author d FFn kah?
👍: 0 ⏩: 0

























