HOME | DD

vectorbending — Nature by-nc-nd

Published: 2008-01-28 10:55:09 +0000 UTC; Views: 1263; Favourites: 4; Downloads: 4
Redirect to original
Description Nature
Oleh Chira

Dunia terbelah dua…
Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri

Hujan selalu menjadi pertanda, tapi nggak bagi Oki, setidaknya untuk hari ini. Matanya mengelilingi ruang kelas, hanya beberapa gelintir orang yang duduk terdiam di mejanya. Sementara Pak Sopian, guru Matematika paling menyebalkan di seluruh sekolah, berbicara seolah nggak tahu apa-apa. Oki memejamkan mata, hampir seluruh teman-temannya berdiri di bawah rintik hujan jauh di luar sana. Mereka menentang pendirian gedung pertokoan di atas taman yang berada tepat di depan SMU Persada –sekolah mereka. Taman itu nggak bernama, nggak berarti, tapi mungkin teman-temannya menilai lebih dari itu, karena mereka lebih memilih untuk berdiri di tengah hujan, berteriak atau mati kedinginan… mungkin bisa disebut patriotisme? Oki menggelengkan kepala, satu-satunya hadiah bagi mereka adalah skors selama seminggu, ketinggalan pelajaran dan kesempatan mengikuti ujian akhir semester. Setidaknya jika dia ikut, predikat sebagai pelajar teladan akan melayang dari tangannya.
Oki meremas koran dan melemparnya ke tempat sampah, hujan yang katanya menjadi pertanda itu telah menenggelamkan sebagian besar kota. Matanya memandang taman di seberang jalan, untuk apakah dipertahankan jika akhirnya ikut tenggelam? Setidaknya kenangan masih bisa disimpan di dalam hati, kalau hati itu nggak ikut tenggelam. Tiba-tiba Oki tersenyum, kakinya menyeretnya menuju taman.
Vivian, gadis cantik berambut panjang itu menyeret tubuhnya duduk di bangku taman. Aroma kemarahan membakar seluruh tubuhnya, otaknya merekam dengan jelas penolakan orang itu satu jam yang lalu. Siapa sih yang pernah menolak gadis paling cantik se-SMU Persada ini? Jawabnya, nggak pernah ada, kecuali laki-laki itu. Menurut Vivian, nggak ada yang patut dibanggakan dari cowok itu, kecuali karisma dan kepandaiannya. Cuma itu. Titik. Tiba-tiba matanya melihat pohon kecil yang baru tumbuh di tengah taman, kebencian seakan-akan membakar pohon itu, bukankah sebentar lagi pohon itu juga nggak berguna? pikir Vivian. Korek apinya udah berada di atas pohon itu, tapi tiba-tiba kabut perlahan-lahan turun…
Beberapa gerombol murid cewek terlihat murung di pojokan kelas, berita menghilangnya salah satu siswi di SMU Persada udah tersebar di penjuru sekolah. Pihak sekolah mau nggak mau harus ikut turun tangan, karena siswi itu hilang sesaat setelah pulang sekolah. Oki tersenyum, biar kepala sekolah koruptor itu kelimpungan. Tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil. Oki menutup telinganya rapat, sambil berkata seolah itu mantra untuknya… “Aku nggak tahu apa-apa… sama sekali nggak tahu…”
***

Iskandar salah satu kandidat ketua OSIS untuk tahun ini, ambisinya sangat besar. Ambisinya nggak sah karena melangkah di atas penderitaan dan kebodohan manusia lain, tapi dia nggak peduli itu.
“Iskandar… ya?”
Matanya menatap sosok di depannya, cowok yang dihadapannya sangat manis –sekilas hampir seperti cewek. Iskandar mengernyit, sebelumnya nggak pernah dia melihat bentuk seperti ini di SMU Persada.
“Nggak ada yang nggak tahu Iskandar, kamu yang memimpin demo pembongkaran taman kemarin kan?”
Iskandar tersenyum bangga, dia memang yang memimpin demo kemarin. Tapi, bukan untuk siapa atau apa pun, tujuannya hanya satu: berhasil jadi ketua OSIS tahun ini. Dia juga akan merancang demo lagi untuk pengurukan kolam belakang sekolah, tiba-tiba dia teringat kertas dalam genggamannya yang berisi rencana untuk menjatuhkan lawan politik lainnya. Iskandar meremas kertas itu, dan secepat kilat membuangnya ke selokan.
“Nun…” Iskandar nggak mengerti bisikan anak itu, yang dia tahu mata anak itu berubah menjadi lebih dalam dan gelap, kengerian membuat matanya berkabut.
“Ka… kamu siapa?”
“Ah… aku Noe, murid baru.”
Iskandar merasa tatapan anak itu berubah normal kembali, namun kabut tetap tersisa di sekelilingnya. Pertanyaannya hanya satu: bagaimana bisa ada anak aneh yang pindah sekolah di tengah semester… kecuali…
***

Hujan kali ini sangat deras, hampir menyerupai kabut. Mata Santi, gadis pemalu berkacamata itu tertuju pada kolam yang berada di belakang kelasnya. Kolam yang cukup besar, mungkin cukup untuk menenggelamkan orang, tiba-tiba pikiran itu terlintas di benaknya. Sebaiknya kepsek aja yang ditenggelamkan di kolam itu, berkat dia beberapa kenangan indah tentang sekolah ini akan terhapus. Pertama, taman di depan sekolah akan dijual untuk dijadikan pertokoan, kedua, kolam itu entah akan dijadikan apa. Tiba-tiba matanya menemukan sosok cowok yang selalu membuat hatinya berdebar. Apa yang dilakukannya di dekat kolam itu dengan basah kuyup karena kehujanan?
“San…”
Pandangannya di jendela teralih kembali ke dalam kelas, di hadapannya terlihat sosok ketua kelasnya, cewek yang pintar, meskipun agak galak.
“Ayo, kita ikut demo pembongkaran kolam!!!” Santi bukan tipe orang yang bisa menolak ajakan, meskipun hatinya ingin melihat sosok itu lebih lama…
“Kenapa kamu nggak ikut anak-anak yang lain?”
Oki melihat sosok di depannya, cowok yang sekilas seperti cewek itu. Nggak ada yang nggak mengenalnya –anak aneh yang pindah di saat rusuh seperti ini.
“Demo? Percuma melawan kepsek keras kepala itu!”
Anak itu tersenyum ringan.
“Dunia ada di tanganmu…”
“Apa kamu udah gila…?”
“Begini… satu dunia di tangan kananmu, dan yang satu di tangan kirimu. Hancur atau nggaknya dunia bergantung padamu.” Cowok cantik itu menunjuk kedua tangan Oki.
“… Aku bukan Presiden, seharusnya kamu mengatakan itu kepada orang yang berkuasa dan bisa membalikkan dunia dengan mudahnya.” Oki tertawa terbahak-bahak.
“Nggak, dunia dan alam ini ada di tanganmu. Hanya dengan sedikit sentuhan tanganmu, kamu udah merubahnya…” Cowok cantik itu berusaha mengambil kaleng minuman yang berada di pinggir kolam, sementara hujan bertambah deras dan kabut menutupi segalanya.
***

Hari ini nggak ada berita yang menarik. Pertama banjir, kedua demo, ketiga pengurukan kolam belakang sekolah ditunda, karena ditemukan mayat salah satu kandidat ketua OSIS yang tenggelam di dalamnya. Oki mencoba membayangkan kehabisan napas di dalam kolam yang berlumut. Nggak bisa. Bagaimanapun seseorang nggak bisa benar-benar mengerti apa yang dirasakan orang lain, kecuali mengalaminya sendiri. Sambil memejamkan mata, Oki masih mendengar suara-suara memanggilnya.
“Oki, kamu dipanggil wali kelas…”
Oki semakin merapatkan mata dan telinganya.
“Jangan sekarang, kumohon jangan sekarang… aku belum siap….”
Oki berlari seakan menjauhi hujan, pikirannya udah penuh, namun dia masih bisa melihat anak aneh itu –Noe berusaha keluar dari got besar di depan sekolah.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Eeeh… kamu sendiri sedang apa? Hujan deras begini?”
“Maksudku, untuk apa kamu masuk got?”
Noe berjongkok di depan Oki, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
“Kucing kecil ini tadi terserempet mobil kepala sekolah sampai masuk got, kucing yang sial ya?”
Oki menatap Noe heran, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa tertawa?”
“Nggak, aku cuma tertawa atas kebodohanku yang mau duduk santai denganmu di depan got saat hujan deras.”
“Menurutku kamu nggak bodoh.”
Oki tertawa lagi, lebih keras dari sebelumnya.
“Oi, Oki… menurutmu orang yang bisa disebut sebagai sampah itu seperti apa?”
Oki menatap Noe, berpikir apakah pertanyaan barusan nggak serius, tapi raut wajah Noe mengatakan lain.
“Eng… mungkin orang yang bodoh, selalu membuat masalah, nggak bisa apa-apa…”
“Kalau menurutku sampah itu orang yang nggak bermoral.”
“Eeeh?” Oki menatap Noe lagi.
“Orang nggak bermoral dalam kerangka yang lain. Coba kamu pilih, pertama kamu jadi anak bodoh yang nggak punya keahlian apa-apa, tapi kamu menikah dan membesarkan anak dengan baik, dan anak itu bisa berguna banyak orang. Kedua, kamu jadi anak yang pintar tapi picik, setelah dewasa kamu hanya jadi koruptor atau orang yang memikirkan diri sendiri.”
“Aku…” Oki nggak menjawab pertanyaan itu, bagaimanapun Oki ingin menjadi orang pintar yang bermoral.
“Kadang aku berpikir, kalau ada anak-anak seperti itu apakah mereka bisa menjadi orang dewasa yang baik? Kemudian anak-anak yang belajar dari orang dewasa macam itu saat tumbuh dewasa… mereka akan jadi seperti itu juga.”
“Jangan bercanda?! Aku nggak mungkin menjadi orang seperti itu!” Oki nggak senang dengan arah pembicaraan barusan.
“Aah… hujannya udah berhenti.”
Noe menepuk kepala Oki seolah-olah Oki anak kecil, lalu berdiri, sekarang kucing kecil itu udah tidur di pelukan Noe.
“Kamu mau kemana?”
ulang….”
“Ke mana?”
“Noe berarti kabut… kalau aku pulang berarti kembali ke kabut…”
Noe tersenyum sambil melangkah pergi, Oki menatap sampai Noe menghilang di ujung jalan, sampai berkali-kali berpikirpun mungkin Oki akan terus menganggap Noe orang yang aneh. Oki memalingkan wajahnya ke seberang jalan, matanya menangkap pemandangan beberapa orang mengerikan yang nggak dikenalnya berdiri mengelilingi salah satu siswa SMU-nya, tapi Oki nggak mengenal orang itu. Nggak bisa membantu orang yang nggak dikenal. Oki berdiri lalu berjalan seakan-akan nggak melihat apa-apa.
***

Kadang Oki melupakan hari ini hari apa, atau besok dan lusa hari apa, tapi dia nggak pernah melupakan kejadian yang muncul di hari ini. Meskipun pikirannya penuh dengan rumus matematika dan fisika, dia masih bisa mengingat dengan jelas berita di koran pagi tadi. Berita lucu pertama, banjir hampir menenggelamkan seperempat kota, setidaknya Oki bisa bersiap-siap pergi dari kota, siapa tahu kota terendam seluruhnya. Berita yang kedua cukup aneh, seorang kepala sekolah sebuah SMU meninggal akibat kecelakaan mobil. Oki melihat langit yang mulai gelap, dia baru tersadar, terlalu lama di perpustakaan membuat badannya pegal-pegal. Tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya memandang keramaian di ujung jalan. Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan gadis berkacamata yang tampak ketakutan di tengah kerumunan. Oki merasa pernah melihat wajahnya entah di mana.
“Oki!”
Gadis itu berlari menghampirinya, Oki merasa takjub karena gadis itu tahu namanya.
“I… itu salahku… per.. pertama kali orang-orang mengerikan itu hanya minta uangku, cowok itu hanya lewat aja…” Gadis itu mulai meneteskan air mata.
“Seandainya aja langsung kuberikan uangnya, dia nggak akan….”
Oki membeku di tempatnya, cowok itu? Satu-satunya orang yang suka mencampuri urusan orang lain… jangan-jangan…
Oki merasa kabut memenuhi matanya, dia hanya bisa mendengar suara sirene di kejauhan.
***

Udah tiga hari sejak kematiannya, tapi Oki merasa itu awal mula dari beberapa kejadian belakangan ini. Hujan rasanya udah nggak marah lagi, banjir nggak lagi menenggelamkan sebagian besar kota, penghancuran taman di depan sekolah dihentikan, begitu juga dengan kolam sekolah. Lalu sekarang di mana Noe? Kembali ke kabut? Oki tersenyum teringat kata-kata itu.
“Apa kamu mendengar?”
Oki tersadar dari lamunannya, saat ini dia sedang berkonsultasi dengan wali kelasnya.
“Apa kamu sudah menentukan universitas mana yang kamu pilih? Bapak pikir kamu bisa dengan mudah masuk. Bahkan ada tawaran beasiswa dari luar negeri. Kamu memang murid jenius kebanggaan SMU ini.”
“Aku tidak memilih semuanya.”
“Eeeh?” Raut wajah guru itu mulai berubah.
Oki mengangsurkan sebuah brosur.
“Ada tawaran menjadi guru di pedalaman Papua, gajinya memang tidak banyak, tapi aku masih bisa tidur dan makan dengan cukup.”
Oki nggak mempedulikan wajah nggak percaya wali kelasnya.
“Setidaknya aku ingin jadi orang dewasa yang baik….” Oki tersenyum sekali lagi.
***

Oki merasakan nafasnya hampir putus, badannya hampir nggak bisa bergerak. Bahkan dia nggak bisa mengingat kejadian yang terjadi hari ini, kemarin, lusa dan seterusnya. Kabut perlahan turun, tanpa disadari dia melihat wajah Noe di hadapannya.
“Bagaimana rasanya di dalam kolam berlumut, Iskandar?”
Oki menatap Noe nggak percaya.
“A… aku Oki!!!”
Oki berusaha menjerit tapi nggak ada satupun suara keluar dari mulutnya.
“Kita pulang ke kabut?” Noe mengangsurkan tangannya pada Oki.
“Jenius adalah satu dari banyak bentuk kesintingan.” Oki merasakan bisikan Noe di telinganya. Kemudian Oki merasakan kabut semakin tebal sampai dia nggak bisa merasakan apa-apa lagi…

*Nun : bahasa Hebrew kuno, mengacu pada kematian.
Related content
Comments: 0