HOME | DD

vectorbending — Detention by-nc-nd

Published: 2008-02-08 04:27:22 +0000 UTC; Views: 1759; Favourites: 2; Downloads: 15
Redirect to original
Description Anti Gosip Bikin Gosip
------------------------------
Part 1 By: Paramitha

-------------------------------

“Rere!”
Nggak ada sahutan. Suasana hening sesaat.
“Rere!”
Hening.
“RETA ALINI, ABSEN NOMOR 12!”
Berhubung masih nggak ada sahutan, Pak Koes menghampiri bangku Rere, lalu ikut-ikutan melongok keluar jendela. “Kamu sedang memperhatikan murid-murid nakal yang dihukum karena terlambat? Mau seperti mereka?” Nggak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan pemilik absen nomor 12 itu. Tapi tiba-tiba dia tersenyum, bikin Pak Koes semakin geram. “Baik, kalau itu yang kamu mau.”
Perlahan Rere menoleh dan mendapati seisi kelas sedang menatap ke arahnya, termasuk PAK RADEN –julukan manis untuk Pak Koes yang berkumis lebat. Dia bengong keheranan, karena baru pukul setengah delapan pagi, udah jadi artis dadakan.
“Sekarang kamu keluar! Ikut berjemur sama mereka!” ujar PAK RADEN sambil menunjuk ke arah pintu.
“Saya, Pak?”
“Iya, kamu! Memangnya siapa lagi di kelas ini yang berani bengong waktu jam pelajaran kecuali kamu?!”
“Tapi Pak…,” Rere nggak berkutik. Mirip kucing, kerah baju bagian belakangnya diangkat, lalu dia diseret keluar kelas.
“Sana berjemur dulu, biar otak kamu panas dan siap menerima pelajaran dari saya.”
“Tapi sampai kapan? Kan, panas, Pak!”
“Sampai saya bilang selesai.”
Blam! Pintu kelas ditutup dari dalam. Rere mendesah pasrah. Ekor kudanya bergoyang mengikuti langkah malasnya. Lapangan basket sekaligus lapangan upacara itu ramai, berjubel murid-murid nakal yang datang terlambat. Banyak aja alasannya: masih nyari kaos kaki yang hilang sebelah, bantuin kakek-kakek nyebrang jalan, ada panggilan alam, atau yang paling klise yaitu bangun kesiangan.
“Cewek… cuit-cuit-cuit! Cantik-cantik kok telat?”
Sontak perhatian semua orang tertuju pada Rere. Hhh… lagi-lagi jadi artis dadakan, batin gadis itu.
“Wah, cewek! CEWEK, OI!!!! Ada cewek di sini.”
“Bapak rasa kamu berada di sini bukan karena terlambat,” ujar seorang guru berpakaian olahraga.
“Memang bukan, Pak. Saya dihukum sama PAK RADEN.”
“O, Pak Koes maksud kamu. Ya, beliau memang sering nitip anak didiknya sama saya untuk dihukum. Oke, kamu boleh ikut lari keliling lapangan sekarang.” Kemudian guru berbaju olahraga itu menepukkan tangannya sekitar tiga sampai empat kali. “AYO ANAK-ANAK, SEKARANG LARI KELILING LAPANGAN SEPULUH KALI. SETELAH ITU ISTIRAHAT LIMA MENIT. LALU SEPERTI BIASA, KALIAN BUANG SEMUA SAMPAH YANG ADA DI SEKOLAH INI KE TPA BELAKANG SEKOLAH. PAHAM SEMUA?”
“Ya, Pak!” Kompak GAT (Grup Anak Telat).
Rere ikut lari-lari. Berusaha menjajari langkah murid cowok. Semua pikir dia cewek bertenaga kuda, tapi sebenarnya semangat Rere terbakar begitu melihat kakak kelas pujaannya masuk GAT juga. Dia selalu menjaga langkahnya, agar tetap berada  2,5 meter di belakang si pembakar semangat. Tapi setelah enam putaran dia lalui tanpa berhenti, nafasnya mulai putus-putus. Punggung kakak kelas pun menghilang dari pandangan.
“Kalau capek kamu berhenti aja, Re!” Entah itu suara bass, sopran, tenor, atau alto sekalipun, dampaknya sangat besar untuk Rere. Badannya langsung tegak lagi, wajahnya ceria lagi, seolah-olah baterainya baru di-charge. “ak Adam nggak akan memperhatikan kamu. Toh kalaupun tahu, nggak bakal diapa-apain. Pak Adam kan nggak tegaan sama murid cewek!”
“Kak Aldi sendiri, memang nggak capek lari-lari kayak gini?”
asti capek, tapi nyenengin,” jawab Aldi. Rere meleleh melihat senyumannya. “Kamu masih kuat lari nggak sih, sebenarnya?”
Rere mengangguk, “Masih kok, masih kuat,” sahutnya.
“Kalau gitu, yuk lari lagi.” Penuh semangat Aldi berlari keliling lapangan. Rere mengikuti sambil terus tersenyum sendiri.

“Gila tuh guru, orang cuma ngelamun hukumannya sampai bel ganti pelajaran baru selesai,” gerutu Rere sambil meminum air mineral milik Na. Kakinya pegal-pegal, bahkan pinggangnya tadi sempat kram setelah mengangkut sampah. “Dikiranya babu apa, disuruh ngangkutin sampah ke TPA?! Capek aku jadinya.”
“Kan Pak Raden cuma nyuruh kamu gabung sama GAT. Masalah buang sampah, salahin Pak Adam aja, yang bikin hukumannya kan beliau,” sela Na.
Rere mendengus. “Memang Pak Adam yang bikin hukumannya, tapi kalau Pak Raden nggak ngehukum aku, nggak bakal kayak gini jadinya!” Dia menunjukkan kulitnya yang berwarna merah tersengat matahari.
“O iya Re, kemarin aku lihat Kak Aldi makan di kantin sama cewek,” kata Na pada Rere.
Rere kaget mendengar kabar tersebut. “Apa Na, Kak Aldi sama cewek? Siapa?” responnya kemudian.
“Itu lho… si Irine yang kurus ceking kayak sumpit. Dasar Aldi, mentang-mentang tubuhnya kecil, sukanya sama yang kecil-kecil juga,” sahut Na sambil terkekeh.
“Sebenarnya kamu menghina siapa?! Apa kamu nggak sadar kalau aku juga tersinggung,” bentak Rere. Tinggi tubuh Rere normal-normal aja, tapi berat badannya kurang ideal. Dia cukup kurus, tapi cukup seksi juga.
“Maaf! Tadi aku ngetawain Irine, bukannya kamu. Habisnya… Irine itu terlalu ‘lurus’.”
“Memangnya Kak Aldi sama Irine ngapain? Kok mereka bisa makan bareng?”
“Ya nggak tahu, yang aku dengar sih, Kak Aldi udah jadian sama Irine. Kira-kira sebulan yang lalu. Tapi itu belum tentu benar lho, kan masih kasak-kusuk doang!”
Deg! Kak Aldi jadian sama Irine? Masa, sih? Setahuku, selera Kak Aldi itu bukan yang kayak Irine. Tapi mungkin juga, ya! Kan, Kak Aldi udah nggak pernah minta dicariin pacar.
Terdengar suara Na yang sedang menjentikkan jari. “Oh iya Re, kenapa kamu nggak nembak Kak Aldi aja!? Daripada kamu capek ngeladenin curhatnya mulu, udah kayak tong sampah aja tuh! Iya kalau dapat, nah kalau nggak, kan rugi bandar, Re! Lagipula kamu nggak usah repot-repot pedekate lagi. Tinggal tembak ‘DOR’, langsung dapat, deh!”
“Na sayang… urusan sama Kak Aldi nggak semudah itu,” ucap Rere lembut. “Lagi pula aku ini masih waras! Aku nggak akan nembak cowok duluan, apapun alasannya. Laut juga nggak akan surut kalau Kak Aldi pacaran sama cewek lain,” lanjutnya.
Na yang tahu kalau sebenarnya Rere sedang cemburu, cuma bisa nyengir. Kalau Rere sedang ada masalah, biasanya Na menepuk kepala Rere. Tapi, Na nggak berani melakukan hal itu sekarang. Urusan cinta memang berbeda dari hal-hal yang lainnya, nggak bisa diselesaikan dengan tepukan di kepala.
Rere udah lama suka sama Aldi. Sejak pertama kali melihat Aldi yang lagi demo ekskul, Rere langsung klepek-klepek nggak berdaya. Aldi memang seorang kakak kelas yang keren. Sayangnya, Aldi itu kecil. Tapi dengan wajah imut orientalnya yang selalu menebar senyuman manis, dia berhak menjadi idola beken.
Secara nggak sengaja, Rere pernah terlibat suatu pembicaraan sama Aldi. Pembicaraan itu berlanjut jadi suatu hubungan rumit yang berkepanjangan. Intinya sih, Rere jadi penasehat Aldi yang sering curhat. Aldi sering minta dicariin pacar baru, karena udah lama jomblo. Rere pun mencoba memberikan kritik dan saran ini-itu yang sebenarnya bertujuan untuk mempromosikan diri sendiri. Tapi sayang, Aldi nggak pernah ‘ngeh’ sama maksud Rere.
“Na, mumpung guru yang mau ngajar belum datang, aku ke UKS ya. Capek nih, badan pegel-pegel, pusing lagi! Nanti kalau ditanya, bilang aja aku sakit.”
“Mau dianterin ke UKS?”
“Nggak usah, deh.” Rere segera keluar kelas menuju UKS yang letaknya terpencil di pojok belakang sekolah dekat taman.

“Hu…, hu…, ihik!” Rere menangis. “Huuu….”
Suara tangisnya mengganggu tidur seorang cowok di ranjang sebelah. Cowok itu terbangun, lalu bangkit duduk di pinggir ranjang. Diamatinya Rere yang masih terisak. “Gimana kalau kita pacaran? Kamu mau jadi pacarku?” ujarnya, begitu tiba-tiba, begitu mengagetkan.
Rere terperanjat –sadar kalau di dalam UKS cuma mereka berdua, sehingga yang ditanyai itu pasti dirinya. “Nggak, ah! Buat apa aku pacaran sama kamu? Aku kan nggak kenal kamu,” sahut Rere. Kemudian Rere mengambil tisu dari sakunya dan mulai mengelap matanya yang basah.
“Kalau gitu kita kenalan dulu,” ujar cowok jangkung itu sambil mengulurkan tangannya pada Rere. “Namaku Steve. Kelas tiga. Kamu?”
“Rere. Kelas dua,” dengan santai Rere menjawab. Beberapa detik kemudian dia terperanjat, “Eh, lupa…kamu kan kakak kelasku, ya?”
Steve nggak menyahut. Dia cuma tersenyum penuh arti.
“Maaf! Tadi aku nggak sopan manggil Kak Steve dengan sebutan ‘kamu’.” Jadi cowok yang sering melintas di dekat lapangan waktu aku main basket tuh, namanya Steve. Tahu sih, kalau dia kakak kelas, tapi baru kali ini bisa dekat gini. Kakak kelas yang keren. ‘Kak Steve’…masa aku harus memanggilnya begitu?! Tapi… dari tadi aku udah ber‘aku-kamu’ sama dia. Masa tiba-tiba manggil ‘Kak Steve’?!
“Kita kan, udah saling kenal. Nah… kalau gitu kita pacaran, ya!” lanjut Steve penuh semangat.
Spontan Rere protes, “Nggak mau!”
“Kok masih nggak mau juga, sih!?”
Orang ini tuli, ya? Kalau aku udah bilang nggak mau, ya artinya benar-benar nggak mau. “Ya jelas nggak mau, dong! Apa untungnya buatku?”
Lagi-lagi Steve tersenyum. “ertama, kamu jadi bisa pacaran. Kedua, kalau pacaran, berarti kamu punya pacar, kan! Ketiga, kamu bisa bangga, soalnya aku ini ganteng, pinter, baek, populer, emh… apalagi ya? Oh ya, baru-baru ini aku digosipin sebagai cowok yang seksi! Kamu boleh bangga, tuh! Keempat, aku ini kan baik, jadi kalau ada apa-apa kamu bisa minta tolong sama aku,” ujarnya.
Apa? Seksi? Kamu salah dengar mungkin… atau orang yang bilang kamu seksi itu matanya udah rabun. Masa body seperti itu dibilang seksi, batin Rere dalam hati sambil memperhatikan tubuh jangkung Steve.
Steve melanjutkan “Kelima, kalau kamu mau pergi-pergi, aku bisa mengantarmu. Keenam, emh… yang keenam apa ya? Mmh…”
“Apa?”
“Mungkin… aku bisa nenangin kamu waktu kamu nangis,” dan Steve pun tersenyum.
Bak! Rupanya bantal UKS dilempar Rere ke mukanya Steve. Pas, kena sasaran. Untung si korban nggak marah, malah ujarnya, “Loh, tapi benar, kan! Sekarang kamu udah nggak nangis lagi.”
“Ya, deh… Terus apalagi? Masa cuma enam?”
“Maunya berapa?”
“Kalau bisa yang banyak”
“Kalau kamu mau keuntungan lebih banyak lagi, kamu harus jadi pacarku dulu. Mau kan, jadi pacarku?”
Gadis itu diam-diam menggigiti bibirnya. Hatinya tergetar juga saat diminta jadi pacar cowok jangkung di depannya. Wajahnya yang merah habis menangis makin merah lagi. Baru pertama ini dia ditembak cowok –meskipun diragukan keseriusannya. Pikirnya, melepas masa jomblo terdengar lebih baik ketimbang terus nangis bombay karena patah hati. Maka dia menjawab, “Oke, aku mau.”
“Beneran, nih?!”
Rere mengangguk. “Tapi ada syaratnya, besok kamu harus nyanyi di depan kelasku. Setelah itu, baru aku mau pacaran sama kamu.” Rupanya nggak semudah itu dia diajak pacaran.
“Syaratnya cuma itu?”
“Iya, cuma itu. Memangnya mau tambah lagi?”
“Oh…, enggak deh! Nggak perlu.” Lalu, Steve merogoh sakunya. “Eh, aku punya permen nih! Mau?” Di telapak tangannya ada beberapa bungkus permen.
Setelah mengamati sesaat, Rere mengangguk girang. “Weh… mau, mau!” Dia mengambil permen dari tangan Steve. “Ini permen kesukaanku, kamu dapat dari mana? Aku udah nyari di beberapa toko, tapi nggak ada yang jual permen ini. Katanya, permen ini udah nggak diproduksi lagi.”
“Tadi permen-permen itu aku ambil dari toples. Kayaknya sih, oleh-oleh dari teman mama. Permennya enak, nggak?”
“Iya, enak! Makanya aku suka. Makasih ya, Kak!”
anggil Steve aja.” Hm…, semoga permennya belum kadaluarsa. Itu kan, oleh-oleh dari teman mama pas Valentine… mmh… berapa tahun yang lalu, ya?

---------------------------------------------------------------------------
Bersambung
(Wahhhhhhh… Rere langsung punya pacar setelah patah hati? Gimana cerita selanjutnya ya? Don’t miss it!)

---------------------------------------------------------------------------
Illust CS2 & Photoshop CS2
Related content
Comments: 7

UsinLempoyang [2008-05-12 02:06:29 +0000 UTC]

wahh...
nice...
panjang sungguh description kamu...

👍: 0 ⏩: 1

vectorbending In reply to UsinLempoyang [2008-05-23 02:35:16 +0000 UTC]

hihihihi.. iya.. maap
makasi ya

👍: 0 ⏩: 1

UsinLempoyang In reply to vectorbending [2008-05-23 13:32:06 +0000 UTC]

hahaha...gak apa...nice la kamu punya drawing???
kamu buat guna apa??

👍: 0 ⏩: 1

vectorbending In reply to UsinLempoyang [2008-06-02 10:44:24 +0000 UTC]

buat ilustrasi di Magazine ni..

👍: 0 ⏩: 1

UsinLempoyang In reply to vectorbending [2008-06-02 12:54:21 +0000 UTC]

owwhh..begitu...ya teruskan usaha berkarya

👍: 0 ⏩: 1

vectorbending In reply to UsinLempoyang [2008-06-04 13:35:56 +0000 UTC]

thanks bro

👍: 0 ⏩: 1

UsinLempoyang In reply to vectorbending [2008-06-05 15:40:51 +0000 UTC]

welcome

👍: 0 ⏩: 0